BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Indocement adalah salah satu produsen
semen bermutu, termasuk produk semen khusus. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
didirikan di Indonesia pada tanggal 16 januari 1985 berdasarkan akta notaries
Ridwan Suselo, S.H., No. 277.
Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar
perusahaan, ruang lingkup kegiatan perusahaan, antara lain, pabrik semen, bahan
bangunan, konstruksi dan perdagangan. Saat ini perusahaan dan anak perusahaan
bergerak dalam beberapa bidang usaha yang meliputi pabrikasi dan penjualan
semen (sebagai usaha inti) dan beton siap pakai.
Kantor pusat perusahaan berlokasi di
Wisma Indocement Lantai 8, Jl. Jend. Sudirman Kav. 70-71, Jakarta. Usaha semen
meliputi operasi dari dua belas (12) pabrik Perusahaan yang berlokasi di tiga
lokasi yang berbeda, yaitu sembilan pabrik semen terpadu berlokasi di
Citeureup-Jawa Barat, dua pabrik semen terpadu di Cirebon-Jawa Barat, dan satu
pabrik semen terpadu di Tarjun-Kalimantan Selatan, dengan jumlah keseluruhan
kapasitas produksi sekitar 15,4 juta ton clinker per tahun. Pabrikasi beton
siap pakai meliputi operasi dari dua anak perusahaan.
Pada tahun 2001, HeidelbergCement Group,
salah satu produsen teerkemuka di dunia yang berpusat di jerman dan beroperasi
di 50 negara, menjadi pemegang saham mayoritas Perseroan. Sejak awal tahun
2005, Perseroan telah melakukan diversivikasi produk dengan meluncurkan Semen
Portland Komposit (Portland Composite Cement / PCC). Perseroan juga memproduksi
Sement Portland Tipe I, II/V, Semen Sumur Minyak (Oil Well Cement) dan Semen
Putih (White Cement). Indocement merupakan satu-satunya produsen Semen Putih di
Indonesia. Perseroan dipasarkan dengan merk dagang ‘Tiga Roda’. Pada akhir
tahun 2005, jumlah karyawan Perseroan mencapai lebih dari 6.600 orang.
3.2 Hasil Penelitian dan Analisis
Didalam menganalisis tingkat kesehatan perusahaan Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk digunakan analisis tingkat kesehatan dengan pendekatan
altman.
3.2.1 Analisis Tingkat Kesehatan Analisis tingkat kesehatan adalah dengan rasio-rasio sebagai berikut :
1. Rasio Likuiditas
a. Current Ratio
Berdasarkan rumus current ratio, sebagai berikut :
Untuk dapat mengetahui
current rasio, maka harus diketahui jumlah aktiva lancar dan utang lancar
perusahaan. Tabel berikut merupakan jumlah aktiva lancar dan utang lancar serta
hasil current ratio :
TABEL
3-1
PERHITUNGAN
CURRENT RATIO
|
TAHUN
2002-2006 Tahun
|
Aktiva Lancar
|
Utang Lancar
|
Current Ratio
|
|
2002
2003
2004
2005
2006
|
1.804.699.840.529
1.467.098.787.110
1.594.719.751.504
2.155.764.743.807
1.741.702.404.144
|
639.237.548.981
785.047.381.405
1.126.678.136.613
855.844.362.864
812.180.007.701
|
282%
187%
142%
252%
214%
|
ini disebabkan karena menurunnya jumlah
aktiva lancar sebesar Rp 337.601.053.419 dan meningkatnya jumlah hutang lancar
sebesar Rp 145.809.832.424. Sedangkan ditahun 2004 current ratio menurun
sebesar 45% dari tahun 2003 menjadi 142% yang berarti setiap utang lancar Rp
1,00,- dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 1,42,- hal ini disebabkan oleh
meningkatnya aktiva lancar sebesar Rp 127.620.964.394 tetapi utang menigkat
lebih tinggi, yaitu sebesar Rp 341.630.755.208 akibat utang terhadap bank dan
lembaga keuangan. Ditahun 2005 current ratio perusahaan meningkat sangat tinggi
yaitu sebesar 110% menjadi 252% yang berarti setiap utang lancar Rp 1,00,-
dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 2,52,-
hal ini disebabkan oleh meningkatnya aktiva
lancar sebesar Rp 561.044.992.303 dan juga perusahaan telah membayar utang
lancarnya sebesar Rp 270.833.773749 yaitu hutang bank dan lembaga keuangan
serta terhadap pihak ketiga. Tahun 2006 menjadi 214% yang berarti setiap utang
lancar Rp 1,00,- dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 2,14,- terjadi
penurunan, tetapi tidak terlalu besar jumlah penurunannya. Penurunan tersebut
disebabkan oleh berkurangnya kas sebesar Rp 454.624.118.885 meskipun jumlah
utang l;ancar berkurang, tetapi tidak terlalu besar. Hal ini menunjukkan bahwa
dari tahun ke tahun, jumlah aktiva lancar yang dapat dijadikan jaminan untuk
membayar utang lancar mengalami penurunan di tahun 2003 dan 2006, Tetapi
ditahun 2005 meningkat sangat tinggi dan tahun 2006 hanya mengalami penurunan
yang tidak terlalu besar dan masih lebih tinggi dibandingkan aktiva lancar tahun
2004. Hal ini menandakan posisi likuidasi perusahaan saat ini telah membaik dan
aktiva lancar perusahaan dapat dijadikan jaminan untuk membayar kewajiban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar