Selasa, 26 November 2013

TULISAN SOFTSKILL ETIKA BISNIS



GOLKAR kembali membuat terobosan yang tak populer, yaitu dana aspirasi untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Nilainya nggak tanggung, mencapai Rp 8,4 triliun, artinya per kepala anggota dewan dihargai Rp 15 miliar. Angka ini berlaku untuk satu tahun. Jadi jika lima tahun menjadi senator, maka tinggal tinggal dikalikan lima saja. Wacana ini disampaikan Fraksi Golkar dalam pembahasan APBN 2011, pada Juni 2010.
Duit itu memang tak langsung masuk kantong anggota dewan, melainkan tetap berada di tangan lembaga pemerintah. Cara menarik duit ini, si anggota dewan saat reses akan turun ke daerah pemilihannya, lalu menampung aspirasi masyarakat yang menyampaikan kebutuhan untuk daerahnya. Selanjutnya, si anggota dewan meneruskannya ke lembaga terkait, dari sini akan lahir sebuah proyek untuk dikerjakan di daerah itu yang nilainya tak lebih dari dana aspirasi ini.
Wacana ini dimunculkan dengan alasan untuk menghentikan langkah calo proyek yang selama ini digeluti oleh cukup banyak anggota dewan. Alasan lainnya, agar aspirasi dari masyarakat yang disampaikan melalui si anggota dewan bisa terealisir. Selama ini, aspirasi tak bisa jalan, kecuali yang menampungnya adalah anggota dewan yang duduk di panitia anggaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar