Kamis, 20 Desember 2012

tulisan softskill


Semut Tahu Sinyal Kematian!

Binatang Selain Burung Gagak, Yang Mengetahui Sinyal Kematian.
Ketika seekor semut mati, teman-teman yang satu sarang dengannya bisa segera mengetahuinya. Oleh karena itu, resiko penyerangan terhadap koloni semut bisa sedikit dikurangi. Namun bagaimana semut bisa tahu bahwa temannya akan mati?
Adalah suatu teori ilmiah yang menjelaskan hal ini. Semut mati melepaskan zat kimia yang dihasilkan oleh dekomposisi seperti asam lemak yang memberitahukan tanda kematian pada koloni semut lainnya.
Namun teori ini kemudian terbantahkan oleh hasil riset terbaru, Dong Hwan Choe.
“Semut bisa mengetahui temannya akan mati karena adanya mekanisme berbeda yang tersembunyi di balik necrophoresis yang menyingkirkan salah satu semut pada suatu koloni dalam satu sarang yang sama”, kata Choe seperti dikutip dari Live Science, Kamis, 7 Mei 2009.
Kematian atau zat mati. Sementara semut hidup selain memiliki zat tersebut, juga memiliki zat kimia lain yang berhubungan dengan kehidupan atau disebut dengan ‘zat hidup’.
Ketika seekor semut mati, tingkat zat hidup mereka akan berkurang atau bahkan menghilang sama sekali, sehingga yang tersisa hanyalah zat mati.
Jadi hal ini dikarenakan semut yang mati tidak lagi mengeluarkan bau yang sama dengan semut yang hidup, bukan karena mereka mengeluarkan zat baru pada saat setelah mereka mati“, akhiri Choe.

tulisan softkill

sumber;www.google.com

Network
  • 3G: HSPA+21Mbps
    (HSDPA 21Mbps / HSUPA 5.76Mbps)
  • 4G LTE: 100Mbps / 50Mbps
Processor
  • 1.6 GHz quad-core processor
OS
  • Android 4.1 (Jelly Bean)

Display
  • 140.9 mm (5.5") HD Super AMOLED (1,280 x 720)

Dimension
  • 80.5 x 151.1 x 9.4 mm, 182.5g

Battery
  • Standard battery, Li-ion 3,100mAh
Memory
  • 16/32/64GB User memory + 2GB (RAM)
  • microSD slot (up to 64GB)
S Pen Optimized Features
  • S Pen Experience
    - S Note, S Planner, Email with hand-writing
      integration
    - S Pen Keeper
    - Quick Command, Easy Clip, Photo Note,
      Paper Artist
    - Shape Match, Formula Match

1 Step tasking / Multitasking features
  • Air View
  • Popup Note, Popup Video
  • Page Buddy / Tag Buddy / Word Buddy

Connectivity / Sharing Features
  • Bluetooth® v 4.0 (Apt-X Codec support) LE
  • USB 2.0 Host
  • WiFi 802.11 a/b/g/n (2.4 & 5 GHz), Wi-Fi HT40
  • Wi-Fi Direct
  • NFC
  • S Beam
  • Samsung AllShare Play & Control
  • Samsung AllShare Cast (WiFi Display)
    - Mirroring & Extention
  • Samsung AllShare Framework
Other
  • Samsung TouchWiz / Samsung L!ve Panel
  • Samsung Kies /Samsung Kies Air
  • Samsung ChatOn mobile communication service
  • Smart Stay, Direct claa, Screen Recorder,
    Quick Glance
  • Samsung ChatOn mobile communication service
  • Samsung S Suggest


Kamis, 29 November 2012

BAB 4 METODE RISET




 BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari analisis yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa potensi kebangkrutan PT Indocement tunggal Prakarsa Tbk dengan menggunakan tingkat kesehatan per tahunnya. Tahun 2002 menghasilkan tingkat kesehatan yang baik dibandingkan tahun – tahun berikutnya dan ditahun 2003 meskipun mengalami penurunan tetapi tidak terlalu signifikan, akan tetapi pada tahun 2004 terjadi penurunan yang cukup besar dari tahun sebelumnya yang dikarenakan oleh salah satu faktornya yaitu karena perusahaan mengalami rugi kurs. Meskipun begitu perusahaan dapat kembali meningkatkan pada tahun 2005 walupun ditahun 2006 kembali menurun karena salah satu faktornya adalah rasio operasi yang paling rendah dibandingkan tahun yang lainnya serta quick ratio yang berada dibawah 100% akan tetapi penurunannya tidak terlalu besar seperti tahun 2004. Begitu juga dengan perhitungan Z-score pada tahun 2002 dan 2003 Z-score perusahaan berada di atas 2,67 akan tetapi menurun sangat tajam pada tahun 2004 karena nilai X3 yang sangat rendah sehingga Z-score berada di bawah 2,67 dan kembali membaik ditahun 2005 dan 2006.

Dari hasil analisis tahun 2002-2006, tahun 2004 yang mempunyai tingkat kesehatan paling rendah dibandingkan tahun yang lainnya begitupun dengan nilai Z-score berada dibawah 2,67. Oleh karena itu analisis tingkat kesehatan bisa digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan. Secara keseluruhan perusahaan dalam keadaan baik meskipun tahun 2004 mempunyai tingkat kesehatan yang lebih rendah dibandingkan tahun yang lain dan Z-score dibawah 2,67 tetapi Z-score perusahaan pada tahun 2004 tidak sampai menyentuh nilai dibawah 1,71 sehingga perusahaan masih berada di wilayah abu-abu dan belum berada di wilayah kebangkrutan

4.2 Saran
  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis, penulis akan mengemukakan saran yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, antara lain:
1.PT Indocement Tunggal Prakarsa hendaknya dapat meningkatkan tingkat kesehatan perusahaan agar tidak terus menurun nantinya ditahun 2007 dan seterusnya akan tetapi Z-score perusahaan sudah baik dan dapat dipertahankan karena telah berada di atas 2,67.
2. Meningkatkan rasio operasi karena rasio operasi perusahaan di tahun 2006 paling rendah dibandingkan tahun–tahun sebelumnya, yaitu dengan meminimumkan biaya operasi yang dikeluarkan agar peningkatan penjualan bersih lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya operasi. dan qick ratio yang masih berada dibawah 100%.
3. Meningkatkan quick ratio karena masih berada dibawah 100% dengan meningkatkan quick asset seperti kas deposito berjangka dan yang lainnya agar perusahaan lebih likuid.  

4.3 Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa penulisan ilmiah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan waktu, biaya, maupun wewenang. Penulisan ilmiah ini dilakukan dengan menggunakan data-data yang tercantum dalam laporan keuangan publikasi dikarenakan kurangnya wewenang untuk menggunakan laporan keuangan internal perusahaan. Penulisan ini akan lebih baik jika menggunakan sebaran data yang lebih representative, misalnya perhitungan tingkat kesehatan dengan pendekatan altman berdasarkan sifat sebuah industri dan menggunakan laporan keuangan internal perusahaan serta memiliki waktu dan biaya yang cukup.


bab 3 PROPOSAL METODE RISET


 BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Indocement adalah salah satu produsen semen bermutu, termasuk produk semen khusus. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk didirikan di Indonesia pada tanggal 16 januari 1985 berdasarkan akta notaries Ridwan Suselo, S.H., No. 277.
Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar perusahaan, ruang lingkup kegiatan perusahaan, antara lain, pabrik semen, bahan bangunan, konstruksi dan perdagangan. Saat ini perusahaan dan anak perusahaan bergerak dalam beberapa bidang usaha yang meliputi pabrikasi dan penjualan semen (sebagai usaha inti) dan beton siap pakai.
Kantor pusat perusahaan berlokasi di Wisma Indocement Lantai 8, Jl. Jend. Sudirman Kav. 70-71, Jakarta. Usaha semen meliputi operasi dari dua belas (12) pabrik Perusahaan yang berlokasi di tiga lokasi yang berbeda, yaitu sembilan pabrik semen terpadu berlokasi di Citeureup-Jawa Barat, dua pabrik semen terpadu di Cirebon-Jawa Barat, dan satu pabrik semen terpadu di Tarjun-Kalimantan Selatan, dengan jumlah keseluruhan kapasitas produksi sekitar 15,4 juta ton clinker per tahun. Pabrikasi beton siap pakai meliputi operasi dari dua anak perusahaan.
Pada tahun 2001, HeidelbergCement Group, salah satu produsen teerkemuka di dunia yang berpusat di jerman dan beroperasi di 50 negara, menjadi pemegang saham mayoritas Perseroan. Sejak awal tahun 2005, Perseroan telah melakukan diversivikasi produk dengan meluncurkan Semen Portland Komposit (Portland Composite Cement / PCC). Perseroan juga memproduksi Sement Portland Tipe I, II/V, Semen Sumur Minyak (Oil Well Cement) dan Semen Putih (White Cement). Indocement merupakan satu-satunya produsen Semen Putih di Indonesia. Perseroan dipasarkan dengan merk dagang ‘Tiga Roda’. Pada akhir tahun 2005, jumlah karyawan Perseroan mencapai lebih dari 6.600 orang.


3.2 Hasil Penelitian dan Analisis
   Didalam menganalisis tingkat kesehatan perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk digunakan analisis tingkat kesehatan dengan pendekatan altman.


3.2.1 Analisis Tingkat Kesehatan Analisis tingkat kesehatan adalah dengan rasio-rasio     sebagai berikut :
1. Rasio Likuiditas
a. Current Ratio
Berdasarkan rumus current ratio, sebagai berikut :
   Untuk dapat mengetahui current rasio, maka harus diketahui jumlah aktiva lancar dan utang lancar perusahaan. Tabel berikut merupakan jumlah aktiva lancar dan utang lancar serta hasil current ratio :

TABEL 3-1
PERHITUNGAN CURRENT RATIO
TAHUN 2002-2006 Tahun
Aktiva Lancar
Utang Lancar
Current Ratio
2002
2003
2004
2005
2006
1.804.699.840.529
1.467.098.787.110
1.594.719.751.504
2.155.764.743.807
1.741.702.404.144
639.237.548.981
785.047.381.405
1.126.678.136.613
855.844.362.864
812.180.007.701
282%
187%
142%
252%
214%



   ini disebabkan karena menurunnya jumlah aktiva lancar sebesar Rp 337.601.053.419 dan meningkatnya jumlah hutang lancar sebesar Rp 145.809.832.424. Sedangkan ditahun 2004 current ratio menurun sebesar 45% dari tahun 2003 menjadi 142% yang berarti setiap utang lancar Rp 1,00,- dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 1,42,- hal ini disebabkan oleh meningkatnya aktiva lancar sebesar Rp 127.620.964.394 tetapi utang menigkat lebih tinggi, yaitu sebesar Rp 341.630.755.208 akibat utang terhadap bank dan lembaga keuangan. Ditahun 2005 current ratio perusahaan meningkat sangat tinggi yaitu sebesar 110% menjadi 252% yang berarti setiap utang lancar Rp 1,00,- dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 2,52,-
   hal ini disebabkan oleh meningkatnya aktiva lancar sebesar Rp 561.044.992.303 dan juga perusahaan telah membayar utang lancarnya sebesar Rp 270.833.773749 yaitu hutang bank dan lembaga keuangan serta terhadap pihak ketiga. Tahun 2006 menjadi 214% yang berarti setiap utang lancar Rp 1,00,- dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 2,14,- terjadi penurunan, tetapi tidak terlalu besar jumlah penurunannya. Penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya kas sebesar Rp 454.624.118.885 meskipun jumlah utang l;ancar berkurang, tetapi tidak terlalu besar. Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, jumlah aktiva lancar yang dapat dijadikan jaminan untuk membayar utang lancar mengalami penurunan di tahun 2003 dan 2006, Tetapi ditahun 2005 meningkat sangat tinggi dan tahun 2006 hanya mengalami penurunan yang tidak terlalu besar dan masih lebih tinggi dibandingkan aktiva lancar tahun 2004. Hal ini menandakan posisi likuidasi perusahaan saat ini telah membaik dan aktiva lancar perusahaan dapat dijadikan jaminan untuk membayar kewajiban